Rabu, 26 Agustus 2015
Tugas Kelompok MPAEA 2015
Senin, 24 Agustus 2015
Kamis, 20 Agustus 2015
Menumbuhkan Jiwa Wirausaha bagi Mahasiswa Ekonomi
Tahun 2015 dicanangkan sebagai tahun awal Masyarakat
Ekonomi ASEAN. Itu berarti, semua masyarakat Asean dapat mencari pekerjaan di
negara tetangga secara bebas. Masyarakat dapat mendapat pekerjaan sesuai kemampuan
dan keahlian mereka. Sebelum adanya kebijakan MEA, masyarakat sulit mendapatkan
pekerjaan yang sesuai, terutama mereka yang menginginkan bekerja di perusahaan
multinasional atau perusahaan yang berlokasi di negara lain karena kendala
bahasa atau kewarganegaraan. Namun kini, dengan adanya kebijakan MEA, persoalan
itu dapat teratasi. Namun ternyata menimbulkan permasalahan baru, khusunya
permasalahan untuk para pemuda Indonesia lulusan sarjana Ekonomi.
Indonesia mencetak sarjana Ekonomi dalam jumlah yang
sangat besar setiap tahunnya. Hal ini ternyata tidak diimbangi dengan kondisi
di lapangan. Perusahaan banyak membuka lowongan pekerjaan,namun hanya sedikit
sarjana Ekonomi yang terserap. Mengapa hal itu bisa terjadi?. Selain karena
kualifikasi pelamar kerja yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan,
banyak pula posisi-posisi strategis yang seharusnya bisa diisi oleh sarjana
Ekonomi negara Indonesia, diisi oleh masyarakat negara tetangga yang tentunya
lebih unggul dari segi bahasa dan koneksi. Hal ini yang menyebabkan kita sering
menjumpai sarjana Ekonomi yang menganggur atau bekerja tidak sesuai dengan apa
yang dipelajari di bangku kuliah. Hal ini tentu meresahkan bagi mahasiswa
jurusan Ekonomi.
Untuk itu perlu ada inovasi dalam mengaplikasikan
ilmu yang didapat mahasiswa. Perlu ada revolusi pemikiran. Bahwa mahasiswa
kuliah bukan untuk mencari pekerjaan, namun untuk menciptakan pekerjaan. Bahwa
mahasiswa berkuliah bukan untuk berlomba-lomba lulus lebih dulu, namun
berlomba-lomba membangun koneksi seluas mungkin. Dan setelah lulus dari
perguruan tinggi tidak harus menjadi abdi negara dan melayani masyarakat namun
harus bisa menciptakan sesuatu yang dicari masyarakat, yang dibutuhkan negara.
Salah satu inovasi itu bernama program wirausaha.
Wirausaha adalah program menciptakan usaha secara mandiri. Usaha tidak harus
berbentuk benda, namun bisa pula pelayanan kepada masyarakat. Sistem
pelaksanaan program wirausaha bebas tergantung mahasiswa yang menjalankannya.
Wirausaha mulai banyak dilirik oleh mahasiswa sebagai inovasi pengaplikasian
ilmu yang mereka dapatkan di perkuliahan, terutama mahasiswa jurusan Ekonomi
karena ilmu yang mereka dapatkan dengan praktik di lapangan tidak jauh berbeda.
Macam-macam usaha yang mereka ciptakan, mulai dari hiasan busana yang murah
hingga pengembangan aplikasi teknologi yang beromzet delapan digit.
Untuk menjadi seorang wirausahawan, diperlukan jiwa
wirausaha yang tinggi. Jiwa seperti apakah yang dibutuhkan? Banyak sekali,
salah satunya adalah berani mengambil resiko. Memulai usaha memerlukan banyak
uang yang dikeluarkan, membutuhkan banyak tenaga dan waktu yang harus siap
dikorbankan demi suksesnya sebuah usaha. Karena itu, sedikit banyak pengorbanan
harus mahasiswa curahkan demi suksesnya menjadi wirausahawan. Selain itu jiwa
pemimpin diperlukan pula dalam membangun sebuah usaha. Dalam sebuah usaha,
tentu tidak hanya mahasiswa seorang diri dalam membangun dan mengembangkan
usaha. Diperlukan orang lain yang berkompeten dalam bidangnya untuk membantu
mengembangkan usaha. Orang- orang yang membantu itu perlu sekali arahan dari
yang mempunyai usaha tersebut. Disitulah letak pentingnya jiwa pemimpin. Kita,
mahasiswa jurusan Ekonomi akan memimpin orang-orang yang membantu usaha kita.
Menjadi pemimpin sebuah tim, bukan sebagai penguasa sebuah tim. Menjadi seorang
yang ikut membantu tim, bukan hanya menyuruh-nyuruh menunggu usaha yang
dikembangkan menjadi besar.
Menumbuhkan sikap dan jiwa wirausaha sebenarnya
tidaklah sulit, namun memerlukan waktu. Diperlukan waktu agar mahasiswa dapat
lebih disiplin, lebih berjiwa pemimpin dan tidak mementingkan urusan pribadi.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara berlatih dari sesuatu yang terkecil.
Lalu adakah pengaruh melakukan kegiatan wirausaha
terhadap jiwa mahasiswa jurusan Ekonomi? Tentu ada. Dengan kegiatan wirausaha,
mahasiswa dapat menumbuhkan sikap pemimpin, rela berkorban untuk kepentingan
masyarakat, mencari solusi secara cepat dan tepat dan masih banyak lagi.
Jiwa-jiwa seperti itu sangat dibutuhkan mahasiswa dalam menghadapi kehidupan
sebenarnya.
Jiwa pemimpin disini ialah bukan hanya yang
menyuruh-nyuruh seseorang, tetapi jiwa pemimpin disini ialah jiwa yang mampu
membangkitkan motivasi/semangat para bawahan nya dan juga membantu nya. Dan
biasanya, di dalam jiwa pemimpin terdapat rasa berani mengambil resiko.
Walaupun dia gagal, dia akan terus bangkit. Tidak hanya bangkit, tetapi juga
akan lebih memperbaiki lagi.
Cara menumbuhkan jiwa entrepreneur dapat dilakukan
dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan. Dan dapat juga meminta saran kepada
yang berpengalaman. Tetapi semua itu akan percuma jika kita tidak
bersungguh-sungguh melakukannya.
Oleh karena itu, Para mahasiswa ekonomi diajak untuk
lebih giat belajar maupun bersungguh-sungguh berlatih untuk menumbuhkan jiwa
entrepreneur itu sendiri. Para mahasiswa pun turut bisa mengembangkan ide-ide,
inovasi, dan kreativitas agar dapat mampu bersaing diantara mahasiswa-mahasiswa
lainnya. Dan paling penting adalah berusaha dan berdoa agar dapat menjadi
seseorang berjiwa wirausaha.
Rabu, 19 Agustus 2015
Mengidentifikasi permasalahan perekonomian didaerah Indonesia bagian timur dan berikan solusi konkret untuk mengatasinya
Sebelumnya,
siapa yang tidak tahu dengan Indonesia Timur. Ya, Indonesia Timur merupakan
wilayah bagian timur dari negeri yang kita cintai ini. Indonesia Timur terdapat
berbagai macam pulau dan juga Provinsi. Yaitu terdapat pulau Sulawesi, Maluku,
dan juga Irian Jaya.
Disana
terdapat keindahan alam yang sangat memukau sehingga banyak terdapat
tempat-tempat pariwisata. Akan tetapi, disana terdapat berbagai macam masalah.
Seperti masalah perbatasan, kelautan dan juga yang perekonomian nya. Dan pada
essay yang saya buat, saya akan menjelaskan permasalahan perekonomian di
Indonesia bagian timur.
Permasalahan
ekonomi di Indonesia bagian timur yang banyak kita ketahui adalah masalah harga
yang lebih mahal dari pada Indonesia bagian barat. Kenapa demikian, karena
banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi permasalahan tersebut. Seperti
faktor wilayah, iklim dan Sumber Daya Manusia yang sedikit. Tapi yang paling
menonjol adalah faktor wilayah itu sendiri.
Faktor pertama dari permasalahan perekonomian di wilayah
Indoneisa bagian timur adalah Wilayah. Karena Indonesia bagian timur sangat
jauh dari pusat Ibu Kota Negara yaitu DKI Jakarta. Dan itu menyebabkan biaya
transprotasi dan biaya pengiriman sangat mahal. Oleh karena itu terdapat perbedaan harga yang
sangat jauh antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.
Faktor yang kedua adalah faktor iklim. Iklim dapat
mempengaruhi perekonomian suatu wilayah. Seperti contoh, iklim yang tidak
menentu dapat menyebabkan barang-barang yang akan dikirim tidak dapat di kirimkan.
Dan dari faktor tersebut dapat menyebabkan kelangkaan barang-barang ekonomi
yang menyebabkan harga-harga melambung tinggi.
Faktor yang terakhir adalah faktor sumber daya manusia. Sumber
daya manusia di sana sangatlah minim. Karena manusia-manusia disana lebih
banyak pindah ke kota-kota besar di Indonesia bagian barat. Seperti Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dll. Dan disana juga jarang terdapat SDM yang
memadai. Karena di wilayah tersebut jarang yang mengenyam pendidikan sampai
kejenjang tertinggi.
Mengapa masih terjadi masih terjadi masalah perekonomian
di wilayah Indonesia di bagian timur? Disini saya akan menjelaskan 4 pokok
masalah penyebab nya.
Yang pertama adalah Ketimpangan antar kawasan,
Pengembangan yang selama ini menghasilkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Tetapi
pada kenyataan nyapertumbuhan ekonomi yang tinggi itu belum sepenuh nya dapat
dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketimpangan pembangunan terutama
antara Jawa dan luar Jawa/antar kawasan barat Indonesia dan kawasan timur
Indonesia.
Yang
kedua adalah wilayah perbatasan yang terpencil dan terbelakang, jika di ketahui
lebih jauh, wilayah perbatasan memiliki potensi sumber daya alam yang cukup
besar., serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan
Negara. Namun demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan sangat jauh
tertinggal. Perlu kita sadari bahwa pembangunan di beberapa wilayah perbatasan
sangat jauh tertinggal di bandingkan dengan pembangunan wilayah di Negara
tetangga.
Ketiga
ialah Rendah nya penyerapan informasi, masyarakat di perbatasan sering berada
dalam kondisi penuh dengan keterbatasaan. Mulai dari keterbatasaan perhubungan,
perekonomian, kesehatan dan akses informasi. Dalam persaingan global saat ini,
informasi mempunyai bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi pada saat ini.
Yang
terakhir adalah Kualitas SDM yang rendah, tidak dapat dipungkiri adanya sumber
daya manusia (SDM) merupakan subyek dan obyek pembangunan. Kualitas SDM dapat
dilihat dari 3 aspek, yaitu kualitas, kuantitas, dan mobilitas penduduk. Rendah
nya SDM pada Indonesia timur sepeti yang sudah saya sebutkan diatas menyebabkan
rendah nya produktivitas.
Dan
Solusi Konkret yang dapat dilakukan pemerintah adalah, mensubsidi biaya trans
portasi ke wilayah Indonesia bagian timur untuk pemerataan perekonomian di
seluruh Indonesia. Pemerintah juga dapat lebih memperhatikan wilayah Indonesia
timur. Dan yang lebih utama adalah Pemerintah harus lebih meningkatkan
pembangunan di wilayah Indonesia Timur agar dapat menstabilkan perekonomian. Karena
jangan hanya di Indonesia barat saja yang gencar dilakukan pembangunan
sedangkan di Indonesia bagian timur tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)
About LeetPress
Mengenai Saya
Popular Posts
-
http://www.mediafire.com/download/x01m42a4fnl0p1y/Jeff+Madura.pdf
Formulir Kontak
Blog Archive
About
Anggri413@gmail.com
Pages
My Contact
FB : Anggriawan Oktobisono III
Twitter : Anggriawan_17
IG : Anggriawan_oktobisono
Path : Anggriawan
Ask.fm : Anggriawan
Popular Posts
-
http://www.mediafire.com/download/x01m42a4fnl0p1y/Jeff+Madura.pdf